Selasa, 10 Januari 2012

Awalnya

Aku terdiam melihat seseorang di hadapanku saat berada di rumah Dina.
Cowok bertubuh kurus, kira-kira tingginya 170 cm. Berkulit kuning langsat. Kaos kuningnya setelan dengan gelang yang dipakainya di pergelangan tangan kanannya. Dan topi coklatnya masih menempel di kepalanya walau sudah memasuki ruang tamu rumah Dina.
Kami ke rumah Dina untuk menjenguknya. Dina terserang tifus dan sudah 2 hari dia nggak ke kampus.
Kembali ke cowok tadi, dia melihatku sambil membuka topinya.
“Kenapa?”, tanyaku pelan.
“Cepetan habisin makanannya!”, perintahnya yang membuatku tersentak kaget. Dihadapanku memang ada semangkuk mie ayam yang dibelikan Dina juga untuk teman-teman lainnya. Mie dalam mangkukku belum setengahnya pindah ke perutku, padahal kami semua makan sudah sedari tadi. Saat dia melihatku, aku hanya memutar-mutar garpu ke dalam mie.
“Kok gitu? Kenapa?”, tanyaku enteng sambil menuangkan air putih ke gelasku.
“Aku nggak suka kalo’ liat orang yang makannya lama.”, jawabnya santai masih melihatku.
Aku menghela nafas dan membatin. Kenapa segitunya dia memperhatikan aku, padahal kita belum saling kenal. Ah, mungkin kebiasaannya memarahi orang yang makannya lama. Aku juga nggak kenal dia. Selama kuliah, aku nggak pernah sekelas sama dia. Walaupun kita seangkatan dan satu jurusan, aku tidak tau namanya, maklum kuliah masih 3 bulan. Belum mengenal semuanya.
Aku hanya mencibir ke arahnya dan membawa mangkukku serta segelas air menuju ruang tengah rumah Dina. Aku bergabung dengan Dina, Citra dan teman-teman lelaki disana. Aku melihat mangkuk Citra sudah hampir kosong dan isi mangkuk teman lelaki sudah habis dilahap masuk ke perut mereka. Aku memang orang yang nggak bisa makan cepet. Udah dari sananya seperti ini.
Sambil melahap mie-ku, kami semua bercanda menghibur Dina. Tertawa terpingkal-pingkal karena ulah Fino dengan cerita lucunya. Dan tawa kami terhenti saat cowok nyebelin tadi masuk ke ruang tengah.
“Din, kayaknya ada tamu di luar.”, katanya diikuti Dina beranjak dari tempat duduknya menuju teras.
“Ya ampun. Belum selesai dari tadi?”, tanyanya heboh melihat ke arahku yang masih menyuapkan mie ke mulutku. Aku sebentar melihatnya kemudian melihat ke arah mangkuk-mangkuk di atas meja yang sudah bersih. Fino, Citra dan yang lainnya serentak melihat ke arahku saat dia bertanya tadi.
“Nggak usah heran, Vita kalo’ makan emang lama.”, ledek Citra yang ada di sebelahku. Aku hanya melirik Citra diikuti senyum Citra dan teman-teman.
“Kenapa sih? Porsinya banyak nih, nggak muat perutku!”, belaku.
“Alasan! Citra aja udah habis.”
“Iya! Iya! Ini tinggal dikit.”, kataku sambil berusaha menghabiskan mie dalam mangkukku.
“Perhatian banget Ga? Suka sama Vita?”, kata-kata Citra ini membuatku membelalakkan mata ke arah Citra. Tapi berbeda dengan Fino dan lainnya, mereka tertawa dan mulai menggoda. Cowok nyebelin itu hanya tersenyum dan duduk di sebelah Fino.
Akhirnya aku menghabiskan makananku walau sedikit terpaksa. Aku membantu Citra membawa mangkuk-mangkuk kosong ke dapur rumah Dina untuk dicuci oleh pembantu Dina.
“Itu siapa sih Cit?”, tanyaku saat kami mencuci tangan di wastafel dapur.
“Kamu nggak tau?”, heran Citra. Akupun menggelengkan kepala. “Namanya Rhega.”
“Oh.”, jawabku singkat. Aku memang nggak pernah tau nama itu ada di antara temen-temenku.
Rhega ternyata cowok yang super PD. Ekspresinya saat dia bercerita membuat semua orang tertawa. Tingkahnya yang berlebihan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya dipaksa untuk memperhatikannya.
Terkadang aku ikut tersenyum karena ulahnya jika kami berkumpul. Sejak di rumah Dina kemarin, kami sering bertemu saat ada kumpul-kumpul yang diadakan teman-teman. Tapi selama itu pula kami belum pernah berkenalan, saling berjabat tangan mengenalkan nama masing-masing. Aku hanya tau dia bernama Rhega. Dan dia tau aku bernama Vita.
Sore ini beberapa orang mengadakan belajar bersama untuk kuis besok. Kebetulan aku, Citra, Dina, dan Dewi sekelas. Jadi kami datang ke rumah Fino dan bergabung untuk belajar bersama. Bukan hanya kami berempat yang datang bergabung, tapi ada beberapa teman yang tidak sekelas dengan kami juga bergabung ke rumah Fino, termasuk Rhega.
Aku sejenak terdiam di ambang pintu rumah Fino. Rhega tersenyum kepadaku. Entah apa yang aku rasakan. Namun di otakku aku berkhayal dan berharap jika kami bisa berkenalan sewajarnya dan kami bisa mejadi teman dekat. Tapi aku sadar itu semua hanya harapan dan segera kubuang jauh-jauh.
Bukan hanya di SMA saja Fisika memusingkan kami, tapi di kuliah, kami bertemu lagi dengan Fisika. Mengerjakan latihan soal Fisika membuatku jenuh. Sudah 2 jam kami berkutat dengan soal-soal ini. Dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar ke teras rumah Fino, sedikit berharap mendapat pencerahan untuk melanjutkan mengerjakan soal-soal ini. Aku duduk di bangku teras rumah Fino. Terasa sejuk disini, Kuhirup udara segar disini, karena hujan baru berhenti. Angin meraba kulitku, namun aku tetap menikmati di luar sini. Aku kembali mengerjakan soal-soal ini.
“Vit! Di mana?”, teriak Dewi dari arah ruang tamu.
“Di teras!”, jawabku sambil tetap menunduk membaca kertas soal di pangkuanku.
“Nomer 15 bisa?”, tanya Dewi sekali lagi.
“Bisa!”, jawabku tersenyum melihat soal nomer 15 yang berhasil aku kerjakan.
“Sini dong Vit, ajarin!”, pinta Dewi.
“Iya. Sebentar.”, jawabku sambil merapikan semuanya untuk kubawa ke dalam dan berdiri dari dudukku. Tapi dihadapanku sudah ada seseorang menggunakan kemeja biru kotak-kotak berlengan panjang dipadukan dengan jins warna gelap. Orang itu tersenyum kepadaku dan menyodorkan tangan kanannya ke arahku. Aku hanya bisa mematung dan tak mengerti dengan apa yang dia maksud. Aku tetap mendekap bukuku di dada dengan kedua tanganku. Namun matanya mengisyaratkan supaya aku menyalaminya. Tangan kananku bergerak menyalami tangannya. Terasa hangat saat tangannya mendekap telapak tanganku.
“Rhega!”, suara bassnya membuat aku terbelalak dan makin tak mengerti.
“Rhega!”, dia mengulanginya sekali lagi dan tersenyum menatapku sambil mengeratkan dekapan tangannya.
“Vita.”, bisikku sambil tersenyum dan sedikit bingung.
Rhega kembali tersenyum dan melepaskan tangannya dari tanganku dan mendarat di atas kepalaku. Dia mengusap kepalaku pelan kemudian membalikkan badan dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung.
Aku melihat punggungnya semakin menjauh dan aku tersenyum lebar.
Ternyata hari ini harapanku terkabul.

4 komentar:

Rendra mengatakan...

Bakat terpendam jadi seorang penulis cerpen??
Semangat...
heheheeee

widya ika pravita mengatakan...

masi amatir mz.
masi jelekk tulisannya.
hhehe.

Eriek Sobieski mengatakan...

cieeeeehhhh ...
kamu ternyata diem2 menghanyutkan juga wid ...
teruslah menulis ^^

widya ika pravita mengatakan...

ahhhh.
mz eriikkkk nihh.
ndag usa d bacaa mz.
malu ih, d baca sama yang bener" penuliss.
:)

Posting Komentar