Jumat, 27 Januari 2012

.untitled.


Sore yang mendung ini, Lina menyusuri gang kecil menuju kosannya. Sudah 6 bulan Lina tinggal di kota apel ini. Kuliah di Teknik PWK Universitas Brawijaya, ngekos pula, menurutnya itu berat. Sudah jauh dari orang tua, makan harus beli, ini itu di urus sendiri. Tapi tak apalah, sebagai pembelajaran mandiri di kota orang.
“Linaaa!!!”, sambut Tya di teras kosan mereka.
“Apa Tya??”, tanya Lina memasuki kosan dengan membawa bungkusan nasi yang habis dibelinya di depan gang.
“Lin, mau ya aku kenalin ke temen aku?”, kata Tya menggandeng tangan Lina menuju kamar Lina.
“Nggak ah, males Tya.”
“Yahh, Cuma sebagai temen deh. Namanya Ilyas, dia anak UM.”
“Hmm, iya deh. Cuma kenalan aja kan? Boleh deh.”, jawab Lina sambil membuka bungkusan yang dibelinya tadi.
“Makasih Lina.”, kata Tya sambil tersenyum dan meninggalkan kamar Lina.

Pagi yang cerah ini, Lina sudah siap dengan segala perlengkapan kuliahnya. Dia sudah mencangklong tas pink nya dan memakai sepatu di teras kosannya. Dia menunggu Tya sambil menggulung lengan bajunya sampai siku.
“Lina.”, sapa Tya dari luar pagar kosan sambil menggandeng seorang cowok. “Ini Ilyas.”
Lina hanya tersenyum melihat cowok itu ada di hadapannya. Iyas, cowok bertubuh tinggi, kulitnya coklat, dan inilah fisik cowok yang di idam-idamkan Lina. Segera Ilyas menaikkan tangannya tanda untuk bersalaman.
“Ilyas.”, kata Ilyas dengan suara basnya.
“Lina.”, jawab Lina sambil menyalami tangan Ilyas.

@@@

Ilyas dan Lina, di awali dari dikenalkan oleh Tya, sahabat baru Lina. Dari perkenalannya di pagi yang cerah itu, hari-hari mereka berdua tetap cerah tanpa mendung sedikitpun. Ilyas yang berbeda universitas dengan Lina selalu tampak menjemput Lina di kosannya untuk mengantarnya ke kampus.
Tidak hanya ke kampus, Ilyas selalu mengajak Lina untuk pergi bersamanya, walau sekedar makan berdua. Kadang jalan-jalan mengitari Kota Malang berdua. Lina juga selalu ada di bangku penonton untuk melihat Ilyas latihan futsal.
Sudah dua bulan Ilyas kenal dengan Lina. Dan hari-hari mereka selalu mereka habiskan berdua. Tidak heran, jika teman-teman mereka selalu menggoda Ilyas dan Lina untuk segera jadian.
Dua bulan kenal Ilyas, Lina mulai sayang dengan Ilyas. Perhatian dan pengertian yang diberikan Lina begitu tulus kepada Ilyas.

“Lin, nanti sore makan bubur bareng yuk.”, ajak Ilyas lewat telepon.
“Kapan? Habis maghrib ya? Sekalian aku buka puasa.”, jawab Lina sambil duduk di bangku teras kosan.
“Boleh. Aku jemput ya?”
“Boleh.”
“Ya udah, Assallammualaikum.”
“Waalaikumsallam.”, Lina mematikan saluran telfon itu sambil berdiri dan akan meninggalkaan teras menuju kamarnya.
“Lina!”, teriak Tya dari luar pagar kosan dan mengurungkan niat Lina untuk ke kamarnya.
“Tya. Nggak perlu teriak-teriak. Aku denger kok.”, kata Lina duduk kembali.
“Lin, aku mau ngasih tau kamu sesuatu.”
“Apa?”
“Ternyata Ilyas udah punya pacar.”, jawaban Tya membuat Lina kaget dan memandang Tya.
“Nggak mungkin Tya. Barusan aku telfonan sama dia. Dia ngajak makan nanti.”, bela Lina.
“Tapi Lin, di foto profil facebooknya, dia foto sama cewek.”
“Nggak mungkin Tya, dia foto sendiri.”, kata Lina sambil membuka facebook lewat hapenya. “ Tuh kan, dia foto sendiri.”, yakin Lina sambil menunjukkan layar hapenya ke Tya.
“Tapi Lin, bukan ini nama facebooknya Ilyas yang aku liat tadi di tempat Raka.”,heran Tya. Raka itu pacar Tya. “Sini aku bukain pake punya Raka.”
Tya mengambil hape Lina dan mulai mencari facebook Ilyas yang lain. Tak butuh waktu lama, Tya segera memberitahukan ke Lina. Dia menyodorkan hape itu ke Lina.
“Bener kan?”, kata Tya takut.
“Lho, Ilyas punya facebook dua?”, tanya Lina heran. “Ini ceweknya Ilyas?”
“Kayaknya gitu Lin, tuh statusnya dia ‘berpacaran’.”
“Ini beneran cewenya Ilyas?”, tanya Lina nggak percaya sambil melihat foto cewek yang ada di dekapan Ilyas. Cewek itu pake hotpens dan kaos ketat di fotonya.
“Maaf ya Lin. Aku nggak tau harus gimana waktu aku tau dari Raka. Aku takut mau bilang ke kamu.”
“Nggak papa Tya. Aku malah harusnya makasih. Kamu udah kasih tau aku yang sebenarnya. Kalo nggak ada kamu, aku kayak orang bodoh yang mau-maunya di bohongin kayak gini.”, jawab Lina sambil tersenyum lega ke arah Tya.
Dan ternyata janji yang dibuat Ilyas, hanya janji belaka. Ilyas tidak datang ke kos Lina untuk menjemput Lina. Tapi saat ini Lina bersyukur dengan apa yang Allah tunjukkan kepadanya.
Dan mulai saat ini, Lina tidak lagi pergi berdua dengan Ilyas. Tidak lagi menemani Ilyas bermain futsal, tapi ceweknya yang menemani Ilyas di bangku penonton.
Bukan lagi Lina yang berpenampilan sederhana yang ada di bangku penonton, tapi seorang cewek yang menggunakan rok pendek di atas lutut, kaos ketat, high heels dan make up menor. Itu membuat teman-teman Ilyas heran dan tertawa mengejek Ilyas.
“Lina mana Yas? Kok ganti tante-tante?”

@@@

Pagi itu, Lina sudah bersiap pergi ke kampus. Lina duduk di bangku teras sambil memakai sepatunya.
“Lina.”, suara bas yang dikenal Lina terdengar di depan Lina.
Lina mendongak dan ternyata itu Ilyas. Lina berdiri sambil membenarkan tasnya dan tersenyum.
“Lina, aku udah putus.”, kata Ilyas sambil menunduk.



dedicated for my best friend, Merlin
this is your story

Sabtu, 21 Januari 2012

Manusia Bertopeng

Pasti pernah tau tentang topeng kan?
Tau karena membaca, tau dari teman, dari media, atau pernah melihatnya sendiri.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, Topeng itu artinya penutup muka (dr kayu, kertas, dsb) yg menyerupai muka orang, binatang, dsb.
Dan biasanya topeng digunakan untuk  kepura-puraan untuk menutupi maksud sebenarnya.
Biasanya, topeng digunakan untuk kesenian tari misalnya.

Pernah tau berbagai macam bentuk topeng kan?
Ada muka tersenyum, bahagia, tertawa, marah, sedih, dsb.
Tapi, kita tidak tahu yang sesungguhnya bagaimana ekspresi orang yang memakai topeng tersebut.

Ternyata, di jaman sekarang ini, topeng bukan hanya untuk tarian saja.
Tapi sudah banyak manusia yang memakai topeng dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun mereka tidak membawa topeng kayu seperti para penari, namun mereka sudah menjadikan wajah mereka topeng untuk bersandiwara.

Orang tersebut bisa menjadikan dirinya sebagai seseorang yang baik dan sempurna di depan banyak orang.
Orang tersebut bisa menjadikan dirinya sebagai seseorang yang ramah di orang-orang tertentu.
Orang tersebut bisa menjadikan dirinya sebagai seseorang yang sangat dibutuhkan oleh orang yang membutuhkannya.
Orang tersebut bisa menjadikan dirinya sebagai seseorang yang sangat dibenci oleh orang yang merasa dimanfaatkan olehnya.
Mungkin orang-orang di sekitarnya merasa senang dengan sikapnya.
Tapi, salah satu di antara mereka pasti merasakan sakit hati karena kepura-puraanya.
Sakit hati karena banyak topeng yang dipakainya.

Tulisanku ini terinspirasi saat membaca quote dari @karizunique
"Mungkin dia perlu berubah. Atau mungkin, yang dia butuhkan hanya melepas topeng."

Senin, 16 Januari 2012

Pelangi

PELANGI ???
Pasti semua tau pelangi.
Ciptaan Sang Maha Kuasa, yang begitu indah.
Pelangi muncul ketika hujan mulai mereda.

Dan taukah kalian bagaimana pelangi menginspirasiku saat ini?

Yyahh.
Coba lihat pelangi.
Begitu banyak warna yang dia perlihatkan untuk kita manusia Bumi.
Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu.
Begitu indah dia melengkungkan warna-warna itu.
Keindahan yang tak terbatas dia suguhkan kepada kita.
Tapi apa yang dia lakukan setelah semua keindahannya dinikmati mata kita?
Dia hilang begitu saja. Lenyap entah kemana.
Dia meninggalkan kita yang sudah sangat menikmati keindahannya.
Keindahan yang menyejukkan hati.

Dan aku sadar di balik semua itu, pasti ada hikmah dan kebaikan.
Ketika pelangi muncul hujan reda, dan ketika pelangi itu hilang matahari datang untuk menyinari Bumi ini.
Cahaya yang mendatangkan harapan baru untuk manusia di Bumi.

Bukan hanya percaya dengan keindahan yang disuguhkan, tapi berfikirlah dan bersiaplah untuk kehilangan keindahan itu.
Banyak hikmah dan harapan yang ada ketika sesuatu itu hilang darimu.

Jumat, 13 Januari 2012

CANTIKK??

Cantik??
Apa sih yang kamu fikirin jika ada pertanyaan seperti itu?
Kata cantik pasti selalu hadir di setiap hari kita.
Cantik itu identik dengan cewek, perempuan, atau wanita.
Dan kata cantik pasti mempunyai banyak arti dan pendapat sesuai dengan orang yang menerima pertanyaan tersebut..
Dan disini aku akan menuliskan beberapa pendapat dari orang-orang sekitarku tentang kata CANTIK.

Ada yang bilang, Cantik itu cewek yang punya kulit putih, punya rambut panjang berwarna hitam yang tergerai indah.

Ada juga yang bilang, Cantik itu cewek yang punya badan ideal, punya tinggi semampai.

Lainnya ada yang bilang, Cantik itu cewek yang punya mata belo', punya gigi gingsul, punya bulu mata yang lentik, punya lesung pipi.

Tapi orang lain pernah bilang, Cantik itu cewek yang pake barang-barang mahal, dari baju sampai aksesoris.

Dan ada yang bilang, Cantik itu cewek berkerudung, pake baju lengan panjang, menutupi semua auratnya.

Sekarang, menurut sudut pandangku, cantik itu sesuatu yang dimiliki semua cewek di dunia. Tapi, ada yang membedakan kecantikan mereka.
Menurutku, cantik itu bukan dari fisik aja, bukan sesuatu yang gamblang dilihat oleh mata.
Tapi kecantikan yang membedakan tiap cewek itu ada dalam diri mereka masing-masing.
Cantik yang berharga adalah kecantikan yang timbul dari hatinya.
Kebaikan yang ada dalam dirinya, kesabaran yang selalu membuatnya tersenyum, pengertian yang selalu diberikannya, ketulusan yang ada dalam hatinya.

Jangan pernah menilai seorang cewek dari penampilan fisiknya, tapi nilailah dari hatinya dan apa yang dia lakukan untuk kalian.
Penampilan fisik bisa membohongi, tapi ketulusan hatinya tak pernah kau ketahui jika kau tak benar-benar mengenalnya.
Dan ingat, semua cewek yang ada di sekitar kalian itu cantik.

Jadi apa menurutmu tentang kata cantik? :)

Kamis, 12 Januari 2012

tak berjudul

Sebenarnya, cinta bukanlah hal yang menyakitkan
Tapi sesuatu yang indah
Sadarlah . . .
Bahwa cintamu bukan hanya untuk dia
Tapi begitu banyak cinta yang ada dalam hatimu
untuk orang lain
Untuk orang tuamu, sahabatmu, temanmu
Juga untuk dirimu sendiri

Jangan pernah kau menyalahkan Tuhan
Karena Tuhan begitu adil
Tuhan tahu, ini yang terbaik bagimu
Jika kau tetap bersamanya, mungkin akan lebih menyakitkan
Dan Tuhan akan memberikan seseorang yang lebih baik dari dirinya

Ingat, kamu hidup di masa sekarang
Jangan kau terlarut di masa lalu
Dan berpikirlah untuk masa yang akan datang

Selasa, 10 Januari 2012

Awalnya

Aku terdiam melihat seseorang di hadapanku saat berada di rumah Dina.
Cowok bertubuh kurus, kira-kira tingginya 170 cm. Berkulit kuning langsat. Kaos kuningnya setelan dengan gelang yang dipakainya di pergelangan tangan kanannya. Dan topi coklatnya masih menempel di kepalanya walau sudah memasuki ruang tamu rumah Dina.
Kami ke rumah Dina untuk menjenguknya. Dina terserang tifus dan sudah 2 hari dia nggak ke kampus.
Kembali ke cowok tadi, dia melihatku sambil membuka topinya.
“Kenapa?”, tanyaku pelan.
“Cepetan habisin makanannya!”, perintahnya yang membuatku tersentak kaget. Dihadapanku memang ada semangkuk mie ayam yang dibelikan Dina juga untuk teman-teman lainnya. Mie dalam mangkukku belum setengahnya pindah ke perutku, padahal kami semua makan sudah sedari tadi. Saat dia melihatku, aku hanya memutar-mutar garpu ke dalam mie.
“Kok gitu? Kenapa?”, tanyaku enteng sambil menuangkan air putih ke gelasku.
“Aku nggak suka kalo’ liat orang yang makannya lama.”, jawabnya santai masih melihatku.
Aku menghela nafas dan membatin. Kenapa segitunya dia memperhatikan aku, padahal kita belum saling kenal. Ah, mungkin kebiasaannya memarahi orang yang makannya lama. Aku juga nggak kenal dia. Selama kuliah, aku nggak pernah sekelas sama dia. Walaupun kita seangkatan dan satu jurusan, aku tidak tau namanya, maklum kuliah masih 3 bulan. Belum mengenal semuanya.
Aku hanya mencibir ke arahnya dan membawa mangkukku serta segelas air menuju ruang tengah rumah Dina. Aku bergabung dengan Dina, Citra dan teman-teman lelaki disana. Aku melihat mangkuk Citra sudah hampir kosong dan isi mangkuk teman lelaki sudah habis dilahap masuk ke perut mereka. Aku memang orang yang nggak bisa makan cepet. Udah dari sananya seperti ini.
Sambil melahap mie-ku, kami semua bercanda menghibur Dina. Tertawa terpingkal-pingkal karena ulah Fino dengan cerita lucunya. Dan tawa kami terhenti saat cowok nyebelin tadi masuk ke ruang tengah.
“Din, kayaknya ada tamu di luar.”, katanya diikuti Dina beranjak dari tempat duduknya menuju teras.
“Ya ampun. Belum selesai dari tadi?”, tanyanya heboh melihat ke arahku yang masih menyuapkan mie ke mulutku. Aku sebentar melihatnya kemudian melihat ke arah mangkuk-mangkuk di atas meja yang sudah bersih. Fino, Citra dan yang lainnya serentak melihat ke arahku saat dia bertanya tadi.
“Nggak usah heran, Vita kalo’ makan emang lama.”, ledek Citra yang ada di sebelahku. Aku hanya melirik Citra diikuti senyum Citra dan teman-teman.
“Kenapa sih? Porsinya banyak nih, nggak muat perutku!”, belaku.
“Alasan! Citra aja udah habis.”
“Iya! Iya! Ini tinggal dikit.”, kataku sambil berusaha menghabiskan mie dalam mangkukku.
“Perhatian banget Ga? Suka sama Vita?”, kata-kata Citra ini membuatku membelalakkan mata ke arah Citra. Tapi berbeda dengan Fino dan lainnya, mereka tertawa dan mulai menggoda. Cowok nyebelin itu hanya tersenyum dan duduk di sebelah Fino.
Akhirnya aku menghabiskan makananku walau sedikit terpaksa. Aku membantu Citra membawa mangkuk-mangkuk kosong ke dapur rumah Dina untuk dicuci oleh pembantu Dina.
“Itu siapa sih Cit?”, tanyaku saat kami mencuci tangan di wastafel dapur.
“Kamu nggak tau?”, heran Citra. Akupun menggelengkan kepala. “Namanya Rhega.”
“Oh.”, jawabku singkat. Aku memang nggak pernah tau nama itu ada di antara temen-temenku.
Rhega ternyata cowok yang super PD. Ekspresinya saat dia bercerita membuat semua orang tertawa. Tingkahnya yang berlebihan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya dipaksa untuk memperhatikannya.
Terkadang aku ikut tersenyum karena ulahnya jika kami berkumpul. Sejak di rumah Dina kemarin, kami sering bertemu saat ada kumpul-kumpul yang diadakan teman-teman. Tapi selama itu pula kami belum pernah berkenalan, saling berjabat tangan mengenalkan nama masing-masing. Aku hanya tau dia bernama Rhega. Dan dia tau aku bernama Vita.
Sore ini beberapa orang mengadakan belajar bersama untuk kuis besok. Kebetulan aku, Citra, Dina, dan Dewi sekelas. Jadi kami datang ke rumah Fino dan bergabung untuk belajar bersama. Bukan hanya kami berempat yang datang bergabung, tapi ada beberapa teman yang tidak sekelas dengan kami juga bergabung ke rumah Fino, termasuk Rhega.
Aku sejenak terdiam di ambang pintu rumah Fino. Rhega tersenyum kepadaku. Entah apa yang aku rasakan. Namun di otakku aku berkhayal dan berharap jika kami bisa berkenalan sewajarnya dan kami bisa mejadi teman dekat. Tapi aku sadar itu semua hanya harapan dan segera kubuang jauh-jauh.
Bukan hanya di SMA saja Fisika memusingkan kami, tapi di kuliah, kami bertemu lagi dengan Fisika. Mengerjakan latihan soal Fisika membuatku jenuh. Sudah 2 jam kami berkutat dengan soal-soal ini. Dan akhirnya aku memutuskan untuk keluar ke teras rumah Fino, sedikit berharap mendapat pencerahan untuk melanjutkan mengerjakan soal-soal ini. Aku duduk di bangku teras rumah Fino. Terasa sejuk disini, Kuhirup udara segar disini, karena hujan baru berhenti. Angin meraba kulitku, namun aku tetap menikmati di luar sini. Aku kembali mengerjakan soal-soal ini.
“Vit! Di mana?”, teriak Dewi dari arah ruang tamu.
“Di teras!”, jawabku sambil tetap menunduk membaca kertas soal di pangkuanku.
“Nomer 15 bisa?”, tanya Dewi sekali lagi.
“Bisa!”, jawabku tersenyum melihat soal nomer 15 yang berhasil aku kerjakan.
“Sini dong Vit, ajarin!”, pinta Dewi.
“Iya. Sebentar.”, jawabku sambil merapikan semuanya untuk kubawa ke dalam dan berdiri dari dudukku. Tapi dihadapanku sudah ada seseorang menggunakan kemeja biru kotak-kotak berlengan panjang dipadukan dengan jins warna gelap. Orang itu tersenyum kepadaku dan menyodorkan tangan kanannya ke arahku. Aku hanya bisa mematung dan tak mengerti dengan apa yang dia maksud. Aku tetap mendekap bukuku di dada dengan kedua tanganku. Namun matanya mengisyaratkan supaya aku menyalaminya. Tangan kananku bergerak menyalami tangannya. Terasa hangat saat tangannya mendekap telapak tanganku.
“Rhega!”, suara bassnya membuat aku terbelalak dan makin tak mengerti.
“Rhega!”, dia mengulanginya sekali lagi dan tersenyum menatapku sambil mengeratkan dekapan tangannya.
“Vita.”, bisikku sambil tersenyum dan sedikit bingung.
Rhega kembali tersenyum dan melepaskan tangannya dari tanganku dan mendarat di atas kepalaku. Dia mengusap kepalaku pelan kemudian membalikkan badan dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung.
Aku melihat punggungnya semakin menjauh dan aku tersenyum lebar.
Ternyata hari ini harapanku terkabul.

Senin, 09 Januari 2012

Inilah Aku

Lembut ucapmu tak kan lepas dari ingatanku
Tatapan matamu selalu membuatku tenang
Mata sayumu temaniku dalam bayangan
Senyum manismu mampu menggetarkan hatiku
Bayanganmu selalu hadir dalam ingatanku

Entah apa yang kau perbuat
Hingga aku rindu akan saat-saat itu
Saat dimana hanya ada aku dan kau
Saat dimana kau menatap mataku
Saat dimana kau melayangkan senyum terindahmu

Tapi saat ini, semuanya hilang
Kau pergi meninggalkan semua kenangan itu
Aku tak bisa membuang semuanya dengan begitu cepat
Kenapa kau berikan semua ini?
Bila akhirnya kau akan meninggalkan semuanya bahkan diriku

Tapi kusadar kau mungkin lebih memilihnya
Orang yang secara fisik engkau banggakan
Orang yang secara fisik engkau inginkan
Dan aku tahu orang itu sangat menginginkanmu

Sedangkan aku,
Aku hanya seorang gadis apa adanya
Inilah aku dengan penampilan fisikku
Dan inilah aku dengan hatiku

Minggu, 08 Januari 2012

Menulis yang ku bisa

Aku bukan penyanyi. Jika sedih, aku tak bisa meluapkannya dengan bernyanyi. Atau bahkan suaraku fals dan tak mengerti nada. Aku hanya bisa mendengarkan lagu-lagu dari HP untuk penghilang rasa sedih.

Aku bukan pemusik. Jika sedih, aku tak bisa memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Aku tak bisa memainkan tuts hitam putih piano untuk menenangkan hati ini.

Aku bukan tipe orang yang meluapkan kesedihan dengan makan. Jika sedih, aku tidak bisa makan makanan kesukaanku sepuasnya. Atau makan nasi sebanyak-banyaknya, bahkan coklat kesukaanku tidak pernah kusentuh.

Aku bukan tipe orang yang jika sedih berjalan sendiriandi keramaian untuk meratapi kesedihan. Duduk di antara keramaian dan memikirkan kesedihan.

Aku bukan tipe orang yang meluapkan kesedihan dengan shopping alias belanja. Mencuci mata dengan barang-barang yang dipajang di mall. Aku tidak bisa melakukan itu.

Aku juga bukan tipe orang yang duduk termenung untuk menangisi apa yang sudah terjadi. Duduk sendiri entah dimana tanpa ditemani siapa-siapa.

Jika sedih menyapaku, aku hanya bisa menulis. Jika sesuatu terjadi padaku, aku hanya bisa menulis. Menulis kata-kata di atas kertas. Kata-kata yang berasal dari kesinkronan antara pikiran dan hati.
Tanganku teru menulis huruf demi huruf hingga menjadi kalimat. Dan kalimat itu bisa menjadi puisi atau paragraf dalam berlembar-lembar kertas.
Entah apa yang tertuangdalam kertas itu, itu semua ungkapan dari hati.
Aku suka dengan tulisanku. Kadang terbentuk suatu kata-kata atau kalimat-kalimat deskriptif yang menggambarkan suatu kejadian, atau kalimat beranalogi, atau bahkan kalimat pengandaian.
Hanya kata-kata yang bisa aku tulis untuk suasana hatiku.

Bahkan saat aku jatuh cinta pada seseorang, aku hanya mampu menulis.