Pernah ngerasa kalo usaha kita belum
sepenuhnya dihargai?
Orang tua merasa belum puas dengan nilai
yang kita dapatkan, padahal kita sudah berusaha sekuat tenaga, jungkir balik,
lari – lari bahkan untuk mendapat nilai yang baik untuk kita.
Yah, itu yang aku alami.
Kalo masa SMA dulu, mata pelajarannya
sama semua dari kelas 1 sampe kelas 3, tapi level nya yang berbeda. Kalo di
kelas 1 ada matematika, di kelas 3 juga ada matematika, tapi materinya lebih
susah yang kelas 3 dibandingkan yang kelas 1.
Bener kan?
Tapi ini bukan jaman SMA lagi, aku sudah
kuliah. Bukan mata pelajaran yang aku tempuh, tapi mata kuliah, yang tiap
semesternya berbeda materi yang didapatkan. Bukan matematika yang naik level
lagi, tapi materi baru yang harus aku tempuh.
Setiap mata kuliah pasti ada
kesulitannya sendiri, ada pula yang tidak susah. Dari kesulitan itu, aku harus
membuatnya mudah dengan belajar. Berusaha memahami materi baru itu sudah usaha
yang baik, apalagi bisa menjawab kuis dan ujiannya, itu bisa dibilang sangat
baik.
Untuk saat – saat akhir semester seperti
ini memang banyak yang dibuat galau oleh nilai. Atau bahkan galau dengan nilai
IP dengan menebak – nebaknya, “naik atau turun ya?”.
Setelah semua nilai keluar, kita bisa
merasakan kita tersenyum atau hanya termenung. Tersenyum karena nilai yang
memuaskan atau termenung karena nilai yang tidak sesuai harapan?
Tapi itu nilai dari usaha yang harus
disyukuri.
Saat nilai sudah keluar, kita seakan
pamer ke orang tua kita.
“Ma, Ayah, nilai IP ku turun. Nggak jauh
sih, tapi masih bagus kok.”
“Kok bisa turun? Kenapa turun? Harusnya
bisa naik. Payah kalo turun.”
Iya, itu yang aku dengar dari orang
tuaku, mungkin mereka kecewa karena nilaiku turun.
Tapi ini usahaku, nggak terlalu buruk
kok semester ini. Masih bagus, nggak jauh dari nilai semester lalu yang bisa
membanggakan kedua orang tuaku.
Tapi kalau orang tua sudah berkata
seperti itu, rasanya ingin marah dan sebal. Semester ini aku sudah berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapat nilai yang baik untuk kembali membanggakan
kalian, orang tuaku.
Tapi itu memang watak orang tua, yang
selalu ingin anaknya menjadi terbaik untuk bisa dibanggakan. Mungkin bukan
suatu bentuk marah atau kecewa berlebihan, tapi suatu motivasi untukku supaya
bisa memahami apa yang mereka inginkan.
Tapi disini aku juga ingin mengatakan,
bahwa nilai itu hanya sebuah bentuk akhir dari usaha yang sudah dilakukan.
Dengan usaha yang sungguh – sungguh dan niat yang baik, maka nilai akan
mengikuti. Bukan karena nilai tidak penting, tapi sebuah proses dan usaha lah
yang lebih penting. Karena percuma jika nilai yang didapatkan merupakan bentuk
kecurangan dalam usaha sebelumnya. Dan lebih baik mendapatkan nilai dengan
usaha yang memang berasal dari diri sendiri tanpa kecurangan yang berlebihan.
Dan doaku yang terakhir, semoga para
orangtua bisa mengerti bagaimana usaha anaknya dalam mengikuti perkuliahan yang
tidak mudah.