"Kenapa?", tanyamu saat melihat wajahku duduk di sebelahmu.
"Nggak kenapa-napa.", jawabku sebal sambil memainkan tas selempangku.
"Kok gitu jawabnya? Ngambek?", tanyamu lagi.
"Nggak!", jawabku ketus.
"Marah gara-gara semalem? Aku kan udah bilang, aku berangkat ke toko bukunya. Kamu malah ngebatalin."
"Kok aku? Aku kan udah ngajak kamu, tapi nggak digubris. Eh, kalo temenmu yang ngajak langsung aja berangkat."
"Tuh kan, kamu nggak pernah tanya ke aku. Kata siapa aku nggak ngegubris kamu?"
"Ah. Udah deh. Males!", jawabku sebal sambil menopang dagu menatap lurus pepohonan yang ada di hadapanku.
"Wanita itu selalu tenggelam dengan pikirannya sendiri.", katamu.
Aku diam.
"Wanita selalu dipengaruhi sama pikirannya sendiri. Apa yang ada di pikirannya pasti dianggap akan terjadi. Padahal belum tentu.", katamu lagi.
Aku tetap diam. Memikirkan kalimat-kalimat yang kau ucapkan barusan.
'Ada benarnya. Tapi sudah sering kamu tidak mempedulikan aku, yang aku katakan bahkan ajakan. Dan barusan aku hanya mengungkapkan kekesalanku, tapi . . . . '
Aku menggantungkan kalimat dalam pikiranku. Takut kembali tenggelam dengan pikiranku sendiri.
Dan hening menghampiri, ditemani angin sejuk yang menyibak rambut panjangku.

0 komentar:
Posting Komentar