Selasa, 07 Februari 2012

Kertas Yang Kau Remas

Suatu hari, kau duduk di kursi menghadap meja di depanmu.
Duduk dengan nyaman di sana.
Kau melihat barang-barang yang ada di atas meja.
Kau yang mempersiapkan itu semua sebelum kau duduk tenang di sana.
Ada kertas putih tersusun rapi di sebelah tangan kananmu, bolpoin hitam dan merah, ada juga spidol bertebaran warna di atas meja.
Selain itu, ada lembaran usang yang penuh tulisan dan gambar di sebelah tangan kirimu.

Sambil tersenyum bahagia, kau ambil selembar kertas putih yang ada.
Awalnya kau memandang kertas itu, membolak-baliknya dan kemudian kau letakkan secara halus di atas meja.
Kau mulai memilih alat tulis yang ingin kau pakai.

Dan kau mulai menggoreskan bolpoin hitam di atas kertas itu.
Menulis huruf demi huruf hingga menjadi kata.
Menyusun kata demi kata hingga menjadi kalimat.
Dan merangkai kalimat menjadi sebuah cerita.
Bukan hanya warna hitam yang kau pakai.
Ada coretan merah dalam kata-katamu.
Mungkin kau sedang merasa marah saat kau menulis kata itu.

Bukan hanya cerita yang kau tuangkan dalam kertas, tapi juga gambar yang sangat indah.
Kau menggambar pelangi di sana.
Dengan spidol warna, kau membuat pelangi yang sangat indah dengan warna-warna indah pelangi.
Kau sangat menghayati saat kau mewarnainya.
Kau terus tersenyum saat menggambarnya.
Entah kenapa kau menggambar pelangi yang dalam kenyataan akan datang sekilas menghiasi bumi, bukannya matahari yang selalu menyinari bumi dengan tulus di setiap siang.

Dan saat kau mulai kembali menuangkan kata-katamu, tulisanmu seakan redup dan kabur.
Hampir tidak bisa terbaca.
Banyak jarak yang kau biarkan di atas kertas itu.
Di saat kekosongan yang kau buat di lembar putih itu, kau berfikir sejenak.
Meletakkan alat tulismu, dan mulai terdiam memandangi kertas itu.
Kau begitu lama berfikir, tapi akhirnya kau mulai menemukan jawaban.

Kau menghela nafas dan tangan kananmu mulai bergerak mengangkat kertas itu dari meja.
Memandangi sebentar kemudian kau mulai menggerakkan tanganmu.
Dan kau meremas kertas itu.
Kau buang kertas itu ke lantai.
Kau tidak memperdulikan kertas itu, tapi kau kembali menggenggam kertas yang ada di meja.
Kau menggenggam lembaran usang yang ada di atas meja.
Bukan hanya selembar kertas usang, namun ada berlembar-lembar kertas usang di sana.
Ternyata lembaran usang itu juga kau tulis dengan indah cerita dari tanganmu dan terlihat lukisan indah gambar-gambar dengan warna menarik di sana.
Kini kau lebih memilih lembaran usang itu.
Mungkin kau tak sadar, lembaran usang itu tersenyum bahagia ke arahmu dan tersenyum sinis ke arah remasan kertas yang ada di lantai.

Dan kau tau, AKULAH KERTAS YANG KAU REMAS.

2 komentar:

azzaitun mengatakan...

wao, sedihnya, it's about someone??
sabar ya kertas :)

widya ika pravita mengatakan...

hhaha.
someone??? mungkin iyaaaa. :D

Posting Komentar